Bencana
alam yang mengawali tahun 2014 ini membuat banyak kalangan menaruh simpati
mendalam bagi korban di negeri ini. Berbagai cara dilakukan untuk membantu para
korban. Mulai dari anak TK hingga selebriti papan atas, dari hanya sekadar do’a
di rumah, hiburan, hingga materi yang tidak ragu mereka gelontorkan untuk para
korban. Bahkan ada yang rela tinggal berminggu-minggu di posko pengungsian
bersama para korban memenuhi kebutuhannya. Semua mereka lakukan karena
menganggap ini adalah tanggungjawab semua kalangan, bukan hanya tanggungjawab
mereka yang kaya atau berkedudukan tinggi.
Senin, 17 Februari 2014
Sabtu, 01 Februari 2014
BENCANA ALAM, DAMPAK KACANG LUPA KULIT
Bencana
alam yang terjadi di awal tahun 2014 bagaikan mata rantai yang tak terputus di
negeri ini. Belum usainya banjir yang menggenang Jakarta, Manado menyusul
dengan banjir yang lebih dahsyat, Kudus, Pati, Jepara, Semarang hingga Lampung
yang tak tertinggal untuk ditenggelamkan. Tanah longsor di Jombang, gempa di
pantai selatan jawa, melengkapi Sinabung yang hingga detik ini masih
menunjukkan amarahnya.
Kamis, 23 Januari 2014
MARI BER-KEPO-RIA UNTUK INDONESIA LEBIH BAIK
“Pemimpin paripurna adalah pemimpin yang sudah selesai dengan urusan dirinya. Ia tak lagi berburu kekayaan, ketenaran, kebanggaan, kenikmatan, ataupun atribut protokolernya, karena yang dikejar hanya bagaimana rakyat bisa tersenyum bahagia.” (Wiranto)
Senin, 20 Januari 2014
lalu saya dalam perjalanan balik dari Wonogiri menuju Semarang. Seperti biasa,
saya merogoh kocek untuk membeli koran untuk menemani perjalanan saat itu. Koran
SOLOPOS yang akhirnya menarik saya untuk mengambilnya. Seperti koran-koran
kebanyakan, di halaman pertama berisi headline-news
yang biasa membuat kepala pening seketika. Permasalahan bangsa yang sepertinya
tak akan tuntas bahkan malah ditambah oleh masalah-masalah lain yang sebenarnya
timbul dari diri kita masing-masing. Hingga rasanya masalah-masalah itu
menumpuk dan membuat banyak jiwa tidak bergerak untuk menuntaskannya. Tak
sadarkah jika setiap jiwa sejatinya membawa masalah bagi lingkungannya? Ah
sudahlah, mari lanjutkan.
Rabu, 22 Januari 2014
RANTAU 3 : PROFESI DADAKAN
"Diantara resiko dari melakukan pekerjaan yang tidak kita cintai adalah membuat kita tidak mempelajari apapun dari apa yang kita kerjakan"
Semester pendek
merupakan waktu yang cukup banyak luangnya. Ya bagaimana tidak, waktu hanya
diisi untuk kuliah yang tidak setiap hari. Pertemuan kuliah yang hanya tiga
kali setiap minggunya, selebihnya adalah waktu kosong yang sering terbuang
begitu saja tanpa produktivitas. Kegiatan organisasi yang biasanya
menyibukkanpun tidak ada karena dalam waktu liburan. Hal inilah yang membuat
kebosanan dan kerinduan sering menyerang. Untuk itu, saya memutuskan untuk
mencari kegiatan yang dapat mengisi waktu-waktu luang saya dengan
kebermanfaatan (gaya).
Sabtu, 11 Januari 2014
BREAK!
Rumit? Hidup dibawah
tekanan? Merasa bahwa segala sesuatu tidak berjalan dengan kehendak yang
diinginkan? Atau sedang berada di lingkungan yang selalu memojokkan? Dituntut
untuk ini dan itu. Kondisi seperti ini yang mungkin sering membuat raga terdorong
untuk istirahat atau bahkan berhenti dari kehidupan ini. Ya, istirahat atau
berhenti dari kondisi yang dianggap memberatkan.
Langganan:
Postingan (Atom)
